Merasa Memiliki Lahan Parkir, Ketua RW Kerahkan Warga Robohkan Papan Nama

Warnakotanews.com Surabaya || Kepemilikan lahan yang diakui milik warga Demak Jaya 6 Surabaya, maka setelah papan nama dipasang seseorang yang mengaku pemilik pada Hari Minggu 24 Juli sekira pukul 10.00 sekitar 50 orang dipimpin langsung Ketua RW merobohkan papan nama, karena lahan tersebut dianggap milik warga.

 

Setelah dirobohkan, Hariyanto Ketua RW 10 Demak Jaya langsung berorasi memimpin demo sambil berteriak lantang bahwa lahan milik warga harus dipertahankan.

Selanjutnya wartawan mencari siapa yang merasa memiliki lahan tersebut, ternyata adalah H. Subaidi,SE.,SH yang beralamat di wilayah sekitar lahan yang disengketakan warga setempat.

Setelah didatangi rumahnya H. Subaidi mengakui, bahwa lahan tersebut sudah dibeli dari ahli waris pemilik dan sudah memiliki surat peralihan hak melalui Notaris Surabaya. “Sudah saya beli dari ahli waris dan sudah terbit surat peralihan hak nya” ujarnya.

Sebelumnya Hariyanto Ketua RW pernah didatangi wartawan terkait pengelolaan lahan parkir yang di klaim milik warga, justru ketua rw mengatakan tidak tahu dan tidak mengerti, bahkan kepada wartawan dia tidak mengerti siapa pemilik lahan yang di buat parkiran mobil itu.

Namun dengan tiba-tiba statemen Ketua RW berubah dan menggerakkan warga guna merobohkan papan nama dan memimpin orasi dengan atas nama warga.

Terkait kejadian tersebut wartawan berusaha menemui pengacara sebagai kuasa Hukum H. Subaidi. Menurut Pengacara Eko Juniarso,SH,.MH. “Memang pemasangan papan nama itu saya sebagai kuasa hukum H.Subaidi yang menguatkan, karena sudah jelas surat peralihan hak atas lahan itu sudah dikeluarkan Notaris”, ucapnya.

Menurut Eko atas kejadian bahwa Ketua RW merobohkan papan nama itu sangat disayangkan, sebab Ketua RW tidak punya bukti bahwa lahan yang dimasalahkan itu katanya milik warga, namun jika ketua rw tidak bisa menunjukkan surat kepemilikan lahan, maka akan berurusan dengan hukum.

“Iya biar dulu, kami tidak ingin permasalahan itu membuat warga gaduh, nanti saja. Sekarang ini jangan selalu menggunakan kekuatan warga untuk sebuah kepentingan. Kalau memang lahan parkir itu milik warga, apakah warga pernah mendapatkan bagian hasil parkiran yang nilainya puluhan juta per tahunnya. Kasihan warga yang dijadikan tameng kepentingan,” ujar Eko.

Sedangkan pihak H. Subaidi justru berbeda paham, dia mengatakan lebih berpihak kepada warga, menurutnya kasihan warga.

Justru saya membeli lahan tersebut untuk kepentingan warga, kok bisa?..

Menurut Subaidi, warga harusnya paham bahwa wilayah disitu telah di Blokir BPN. Sehingga banyak warga kesulitan jika mau balik nama sertipikat dan kesulitan jika melakukan proses jual beli rumahnya.

Makanya saya beli lahan itu sebagai cara memperjuangkan wilayah itu untuk membuka Blokir dari BPN. Agar nanti masyarakat tidak kesulitan dalam melakukan balik nama sertifikat, atau urusan waris ke anaknya atau juga proses jual beli rumahnya. Nah nanti yang diuntungkan ya warga serta anak-anak keturunannya.

Tujuan itu bukan kepentingan untuk saya pribadi, hal ini yang belum dipahami oleh warga. Makanya saya berharap masyarakat jangan mudah terbawa provokasi oleh oknum-oknum yang ada kepentingan dengan membawa atas nama warga.

Masih Subaidi. ” Kasihan warga jika nanti ada proses hukum, biar Pak RW saja yang jelas-jelas menggunakan warga sebagai tameng kepentingan, kan kasihan”, tuturnya.

Makanya saya beli lahan itu sebagai cara memperjuangkan wilayah itu untuk membuka Blokir dari BPN. Agar nanti masyarakat tidak kesulitan dalam melakukan balik nama sertifikat, atau urusan waris ke anaknya atau juga proses jual beli rumahnya. Nah nanti yang diuntungkan ya warga sekitar.**tim.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *