Harga beras Meroket, Bambang Haryo Sebut Pertanian Indonesia Sangat Produktif

Surabaya – Politisi Partai Gerindra Bambang Haryo Soekartono, Kamis (5/10) kemarin menyambangi Pasar Pecindilan. Dalam kehadirannya, ia meninjau langsung pergerakan harga beras dan daya beli masyarakat.

Pemilik sapaan akrab BHS yang kini kembali maju sebagai Caleg DPR-RI Dapil Jatim 1 Surabaya-Sidoarjo ini, punya penilaian tersendiri mengenai harga beras yang kini meroket.

Bacaan Lainnya

Dikatakan BHS, Indonesia memiliki lahan pertanian produktif yang luasnya di bawah China sehingga seharusnya negara ini tidak boleh kesulitan mendapatkan beras. Dia membandingkan harga beras di Malaysia hanya dua ringgit perkilo.

“Sebenarnya beras ini tidak boleh kesulitan karena sumber air kita tidak bergantung pada air hujan,kita sumber airnya nomor lima terbesar di dunia. Kita air hujannya terbesar nomor 9 di dunia jadi ini yang tidak boleh sampai terjadi karena masyarakat ini kasihan juga sampai dengan sekarang ini masih kesulitan untuk mendapatkan harga beras yang murah,” tegasnya.

Mengenai kebijakan Impor beras. BHS mengatakan, boleh impor kalau misalnya kita kurang tapi menurut saya dengan lahan pertanian kita yang sekarang 7 sampai 10 juta hektar lahan pertanian kita, dibanding dengan Vietnam yang hanya 3 Juta hektar tapi mereka bisa ekspor beras. Harus yang diimpor harus beras-beras yang tidak mengganggu pertanian kita ,” tuturnya.

Dirinya juga menilai kebijakan impor beras nyatanya tak mampu menekan harga beras di pasaran karena kemampuan BULOG hanya mampu menyimpan beras sebanyak 2 juta ton pertahun, masih kurang memenuhi kebutuhan masyarakat secara keseluruhan sekitar 42 juta ton pertahun.

Untuk menurunkan harga beras yang hari ini menembus Rp. 13.000 perkilogram, maka BHS mengimbau satgas pangan dan BULOG serta pemerintah harus bekerja keras mengatasi masalah ini dan mencari apakah ada permainan kartel dalam kenaikan harga beras yang membuat masyarakat kesusahan.

“Sebenarnya pertanian di Indonesia itu saat ini itu dalam kondisi surplus tapi kenapa harga beras itu yang dikuasai oleh swasta ini 98 persen dikuasai oleh swasta, BULOG cuma menguasai tidak lebih dari 2 persen. Bayangkan, itu tidak bisa dikendalikan,” Tutupnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *