Dalam Persidangan Terungkap Kematian Rio Akibat Pemukulan

Surabaya, warnakotanews.com
Setelah bebas dalam putusan sela, Daffa Adwidya Ariska, dihadirkan sebagai saksi untuk terdakwa Alphard Jelek R Poyono, dalam kasus dugaan penganiayaan Taruna Politeknik Pelayaran Surabaya yaitu Rio Ferdinn Anwar hingga meninggal .

Dalam sidang kali ini JPU Herlambang Adhi Nugroho menghadirkan saksi yakni Heru Widada, M M, sebagai Direktur Poltekpel, Ferry Budi sebagai Wakil Ketua Direktur 3 Poltekpel, Heriyana sebagai perwira pengasuh Poltekpel dan Daffa Adiwidya Ariska.

Daffa , sebelumnya juga sebagai terdakwa namun bebas dalam putusan sela, dalam kesaksiannya , saksi mengaku mengetahui terdakwa memukul korban dikamar mandi , pemukulan pertama dilakukan di dada bagian ulu hati ,

waktu waktu itu kondisi korban baik baik saja ,namun kemudian kembali dipukul kedua oleh terdakwa dibagian yang sama , dan pada waktu itu korban sempat keluar dari kamar mandi kemudian terjatuh , tak hanya itu saksi sempat memberikan pertolongan pertama kepada korban sebelum meninggal .

Hukuman yang di berikan kepada korban hanya karena tidak membawa buku pada waktu itu.

Dalam rekaman CCTV yang di tampilkan dalam sidang ,pada saat pemukulan ada beberapa taruna lain yang masuk kamar mandi dan ada berjaga di luar kamar mandi.

Lalu korban keluar dan terpeleset hingga terjatuh dengan keadaan miring. Nah disitu Daffa memberikan bantuan pertolongan pertama seperti memompa dada korban yang sudah terjatuh dengan keadaan miring dan mulut keluar darah serta bernafas tergagah atau setengah pingsan.

“Pukulan pertama saya kaget dan syok, karena pertama kali ada pemukulan di Poltekpel, lalu pelukan saya bilang sepisan ae. Terdakwa melakukan pemukulan dua kali ke korban di ulu hati atau bagian dada. Setelah kembali jatuh dan tengkurap miring dan disitu Alpard terdiam. Dan sudah mulutmu keluar darah dan nafasnya tergagah atau setengah pingsan. Lalu saya memberikan pertolongan kepada korban,”ucapnya.

Masih kata Daffa, bahwa setelah itu ada tim medis, saya sama senior disuruh mengikuti apel, kemudian paginya saya beritahukan kepada perwira kalau, Rio itu dipukul oleh Alpard yang mana terdakwa bilangnya karana terpelet di kamar mandi. Namun setelah ada pihak kepolisian terdakwa baru mengaku telah memukul korban.

“Kejadian pemukulan tersebut, sudah diceritakan ke Perwira yang bernama Widya,” tegas Daffa.

Dalam rekaman CCTV yang di tampilkan dalam sidang ,pada saat pemukulan ada beberapa taruna lain yang berjaga di luar kamar mandi.

Sementara keterangan Direktur
Heru Widada megatakan, bahwa pihaknya mengetahui ada taruna yang meninggal dunia dari Wakil Direktur 3 Poltekpel. Saat itu kejadian pada hari Minggu 5 Februari 2023 sekitar pukul 22.00 WIB sampai 23.00 WIB, di kasih tahu sama Waka Direktur 3, bahwa ada taruna yang meninggal dan dibawa ke Rumah Sakit Haji.

Sesuai SOP, lalu memanggil management, Waka Direktur, Kabag untuk dipastikan terkait peristiwa yang terjadi kepada almarhum. Namun untuk hasilnya tidak mencari tahu sebab dan langsung dilaporkan kepada Polsek Gunung Anyar.

“Memang saat itu korban terpeleset di kamar mandi dan terjatuh, informasinya begitu, Namun saya laporkan kepada Polsek Gunung Anyar dan tahunya saat di rekonstruksi, ada peristiwa penganiayaan, Yang Mulia,”ujarnya.

Sementara itu, Ferry Budi sebagai Wakil Ketua Direktur 3 Poltekpel mengatakan, bahwa benar saat itu langsung dilaporkan kepada Direktur tentang peristiwa tersebut. “Jadi waktu itu di rumah dan dapat laporan dari anak buah saya bahwa taruna di RS meninggal. Infonya terpeleset dan di cek ke RS dan dilaporkan ke Direktur dan mengecek kebenarannya,”ujarnya.

Kemudian kata Heriyana sebagai perwira pengasuh Poltekpel menjelaskan, adanya yang pingsan dan ada pengasuh dan memberikan bantuan pertolongan. Pada saat itu korban tergeletak dan sudah tidur dan disitu dikerumuni sama teman-teman. “setelah itu ditangani oleh tim medis ke poliklinik,”terangnya.

Usai persidangan , menurut kuasa hukum terdakwa , saya tidak bisa menerangkan lebih karena sesuai persidangan, kita ikuti saja alur persidangan , ujar kuasa hukum terdakwa.

Beda dengan keterangan terdakwa mengatakan bahwa keterangan Daffa dalam persidangan berbeda dan tidak sesuai dengan rekontruksi, itu saja . Ujarnya.* Rhy

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *