
Surabaya,warnakotanews.com
Perayaan Tahun Baru Imlek 2026 berlangsung meriah di Restoran Kayanna Surabaya. Mengusung nuansa merah khas Imlek, acara ini tak sekadar menjadi ajang perayaan pergantian tahun, tetapi juga ruang berbagi yang mempertemukan dunia usaha, kepedulian sosial, dan harapan akan kemandirian.
Sejumlah tokoh hadir dalam perayaan tersebut, termasuk Fatma Saifullah Yusuf, yang dikenal aktif mendukung kegiatan sosial dan pemberdayaan masyarakat. Kehadirannya menegaskan kolaborasi antara komunitas, pelaku usaha, dan lembaga sosial dalam menciptakan dampak nyata.
Pemilik Restoran Kayanna, Ellen Sulistyo, menyambut para tamu dengan hangat. Sosok yang kerap dijuluki “doktor resto” karena kepiawaiannya mengembangkan bisnis kuliner ini menegaskan bahwa Imlek baginya bukan sekadar tradisi tahunan. Lebih dari itu, Imlek dimaknai sebagai momentum untuk membuka peluang bagi kelompok yang selama ini masih terbatas akses pasarnya.
“Imlek identik dengan kebersamaan. Di momen ini, kami ingin berbagi sekaligus membuka ruang bagi karya-karya yang membutuhkan dukungan agar bisa terus hidup,” ujar Ellen.
Melalui kolaborasi antara Kayanna dan merek alas kaki Bocorocco, Ellen menghadirkan bazar bertema berbagi. Seluruh hasil penjualan produk Bocorocco dalam kegiatan tersebut disalurkan untuk mendukung aktivitas Yayasan 1001 Cahaya, sebuah lembaga sosial yang bergerak di bidang pemberdayaan penyandang disabilitas dan kelompok rentan.
Yayasan 1001 Cahaya selama ini membina berbagai karya kreatif, mulai dari batik, lukisan, hingga produk makanan. Dukungan Bocorocco tidak hanya berupa produk yang dipasarkan, tetapi juga membuka akses pemasaran bagi hasil karya para binaan yayasan.
Di salah satu sudut ruangan, sepatu dan sandal kesehatan Bocorocco tersusun rapi berdampingan dengan tas, tumbler, jaket, hingga lukisan karya anak-anak berkebutuhan khusus. Meski dikenal sebagai merek asal Italia, Bocorocco sejak 2018 telah sepenuhnya dimiliki oleh anak bangsa, dengan proses produksi dilakukan di Tangerang dan Solo.
Namun, sorotan utama perayaan Imlek di Kayanna bukan semata pada produk bermerek, melainkan pada cerita di baliknya. Sebagian besar karya yang dipamerkan merupakan hasil binaan penyandang disabilitas dan kelompok rentan yang sebelumnya telah mengikuti berbagai pelatihan, termasuk program yang difasilitasi Kementerian Sosial.
Sementara Fatma Saifullah Yusuf menegaskan bahwa tantangan terbesar dalam pemberdayaan justru muncul setelah pelatihan selesai.
“Bagi kami, pelatihan hanyalah langkah awal. Yang paling penting adalah memastikan karya mereka benar-benar hidup dan punya masa depan. Apa yang dilakukan Yayasan 1001 Cahaya, bersama pelaku usaha seperti Kayanna dan dukungan Bocorocco, memberi ruang nyata bagi penyandang disabilitas dan kelompok rentan untuk terus berkarya dan berdiri di atas kaki sendiri,” tutur Fatma.
Hal senada disampaikan Ellen. Ia mengakui bahwa para binaan kerap mampu menghasilkan produk berkualitas, namun masih terkendala dalam hal pemasaran.
“Mereka bisa membuat produk yang bagus, tetapi pemasaran sering kali menjadi tembok besar. Di situlah kami mencoba menjembatani,” katanya.
Saat ini, Yayasan 1001 Cahaya membina sekitar 10 pembatik di Surabaya. Pembinaan serupa juga dilakukan di Pasuruan, Jakarta, serta sejumlah wilayah di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Pola pendampingan dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari pengambilan karya, dukungan permodalan, hingga pemasaran melalui berbagai kegiatan, termasuk bazar Imlek di Kayanna.

Selain bazar produk, perayaan Imlek ini juga dimeriahkan dengan sajian kuliner khas Nusantara seperti nasi liwet, asinan, dan aneka kue Imlek. Seluruh hasil penjualan makanan turut disumbangkan untuk mendukung program sosial Yayasan 1001 Cahaya.
Di tengah suasana hangat, perayaan Imlek di Kayanna menyampaikan pesan sederhana namun kuat: bisnis dapat berjalan seiring dengan kepedulian.* Red